APA YANG MEREKA BUTUHKAN?

Anakbertanya2

Jangan dipikir anak-anak hanya membutuhkan makanan bergizi yang mendukung pertumbuhan jasamaninya atau segala fasilitas yang memadai untuk mendukung mereka dalam menjalani hidup ini. Mereka membutuhkan kebutuhan lain selain hal-hal tersebut. Seringkali, kita sebagai orangtua melalaikan hal ini. Karena memang apa yang tampak, lebih mudah untuk menyadarkan kita. Saat anak tampak tidak mau makan, maka segera orangtua dengan berbagai cara bagaimana segera mencari jalan keluar aga anak segera dapat makan kembali. Tidak mau tidur, berat badan menurun, luka di kaki, dan sebagainya. Itu semua yang tampak. Pernahkan kita lebih dalam secara emosi memahami kebutuhan mereka? Bisakah kita menangkap kebutuhan rasa aman pada diri mereka? Mampukah kita merasakan ketakutan mereka sehingga perlu pelukan hangat kita?  daripada sekedar makan makanan yang mereka gemari? Anak-anak kita  membutuhkan hal  lain selain materi yang kita telah sediakan saat ini maupun bagi masa depannya.

 

Beberapa kebutuhan anak:

 

  1. KEBUTUHAN UNTUK DITERIMA (Need of Acceptance)

 

Dalam pelayanan hal-hal seperti ini apakah sering terjadi?

  • Mengkritik anak terus hingga membuat anak merasa gagal, ditolak, tidak mampu?
  • Membandingkan dengan murid yang lain?
  • Menuntut terlalu tinggi hasil atau standart pada murid kita? (di luar batas kemampuan)
  • Terlalu melindungi anak karena banyak kekuatiran?

 

Jika memang sering terjadi, maka kita sedang menolak (tidak menerima) anak-anak kita.

Tunjukkan penerimaan pada mereka dengan:

  1. Akui keunikan anak-anak
  2. Berikan pujian bila ataupun umpan balik yang membangun anak-anak.
  3. Tunjukkan kasih pada anak dengan perasaan senang bersama mereka.
  4. Terimalah apa yang mereka senangi (mainan, teman, dll)
  5. Pertahankan kejujuran dan keterbukaan.
  6. Belajar mendengarkan (listening).
  7. Perlakukan anak sebagai anak yang berrharga.
  8. Selalu memberi kesempatan untuk berkembang.

2. KEBUTUHAN DIPUJI

 

“….disamping cambuk sediakan sebuah apel

yang dapat diberikan pada anak bila ia mengerjakan yang baik.”

Martin Luther

 

Semua orang perlu diberikan apresiasi dalam bentuk pujian. Saat ada perasaan senang ketika seseorang mendapatkan pujian, ia akan melakukan sesuatu lebih baik lagi untuk menyenangkan orang lain. Dr. George W. Crane (Pengarang & Ahli Psikologi Sosial) mengatakan: “Seni memuji adalah awal dari seni tentang menyenangkan orang lain”

 

American Institute of Family Relations melakukan penelitian pada ibu-ibu di AS tentang komentar negatif dan positif yang diberikan pada anak-anak mereka didapat hasil bahwa: Diperlukan 4 komentar positif untuk menghapuskan akibat yang ditimbulkan oleh sebuah komentar negatif.

 

Bagaimana memuji anak yang baik

 

Pujilah prestasinya, bukan kepribadiannya

Dengan kata lain, yang diuji adalah hasilnya, bukan sifatnya. Ini juga untuk menghindari anak-anak jatuh dalam kesombongan mereka.

  1. Pujilah yang anak-anak bisa kerjakan daripada yang tidak bisa dikerjakan.
  2. Pujilah dengan tulus dan jujur.
  3. Puji anak saat ia mengerjakan sesuatu atas inisiatif sendiri.
  4. Usahakan pujian diberikan secepatnya.
  5. Ingat pujian dapat memberikan semangat.
  6. Jika kita dianggap penting dalam hidup anak-anak, pujilah mereka.

3. KEBUTUHAN DISIPLIN

 

“..karena perintah itu pelita dan ajaran itu cahaya

dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan..”

 

Amsal 6:23

 

Arti kata disiplin yang berasal dari kata “disciline” dan “disciple” dari bahasa latin untuk murid, yang artinya memberi pengajaran, mendidik, dan melatih. Tujuan pendisplinan selalu mengarah pada pembentukan karakter ilahi sesuai dengan standart dan kebenaran Firman Allah.

 

Menurut Dr. James Dobson, Universitas Southern California, disiplin yang baik memiliki Prinsip sebagai berikut:

 

  1. Mengembangkan rasa hormat pada orangtua
  2. Menyadari bahwa komunikasi sering menjadi lebih baik setelah hukuman dijatuhkan
  3. Kontrol tanpa rengekan
  4. Tidak membanjiri informasi yang berlebihan.
  5. Hindari perilaku ekstrem dalam kontrol dan kasih.

4.  KEBUTUHAN RASA AMAN (Need of Secure)

 

Dalam perkembangan menghadapi dunia di luar dirinya yang penuh dengan tantangan dan situasi yang tidak mereka harapkan bahkan lebih dari apa yang mereka bayangkan, anak-anak perlu ada yang memberikan rasa aman pada dirinya. Jika kita tidak dapat memberikan rasa aman pada anak-anak, mereka akan mencari rasa amannya di luar kita, dunia dapat memberikannya. Tentunya dengan kesesatan dan kerusakannya. Teman-teman mereka juga bisa menjadi sasaran mereka untuk mencari rasa aman.

 

Rasa tidak aman (in-secure) bisa muncul karena:

  • Pertentanngan yang terjadi pada orangtua
  • Tempat tinggal (kelas) yang berpindah-pindah.
  • Pendisiplinan yang tidak benar, standart tidak jelas.
  • Ketidakhadiran orangtua tergantikan oleh yang lain.
  • Celaan dan kritikan yang terus menerus.
  • Orangtua sendiri merasa tidak aman (in-secure)

 

Bagaimana membentuk rasa aman pada anak-anak:

 

  1. Rasa aman yang diawali oleh orangtuanya.
  2. Kasih yang tulus
  3. Kebersamaan
  4. Kebiasaan yang rutin teratur dan disiplin yang tepat.
  5. Sentuhan, touch pada anak-anak (pelukan, belaian, gandengan)
  6. Dijadikan bagian dalam keluarga/kelompok hingga merasa dimiliki.

img_csaez_20160425-184142_imagenes_lv_getty_gettyimages-174908249-k74-U4139434368XUG-992x558@LaVanguardia-Web

5.KEBUTUHAN MENCINTAI DAN DICINTAI (Need of Love)

 

Anak-anak yang hidup tidak dan tidak merasakan cinta dari orangtuanya, akan mempengaruhi perkembangan dan keribadiannya. Ketika tidak dicintai maka anak-anak juga akan sulit mencintai oranglain. Oleh karena itu terlebih dahulu Allah mencintai manusia dan memilih kita untuk dijadikan anakNYA, ahli waris Kerajaan Sorga agar kita dapat mengasihi orang lain.

 

Beberapa hal tentang cinta terhadap anak-anak;

  1. Cinta adalah respon yang bisa dipelajari.
  2. Kemampuan anak dalam mencintai orang lain dipengaruhi cinta antara kedua orangtuanya.
  3. Ungkapkan cinta.
  4. Buktikan cinta dengan tindakan.
  5. Mencintai dengan bentuk belajar mempercayai anak-anak.
  6. Belajar untuk mendengarkan.
  7. Membagikan pengalaman dan memiliki pengalaman bersama.
  8. Buka hubungan yang aman dan terbuka.
  9. Buktikan bahwa anak-anak lebih penting dari benda, pekerjaan, atau tugas,

 

 

 6. KEBUTUHAN PERASAAN BERARTI

 

Seringkali kita menganggap anak-anak sudah dianggap berarti dalam keluarga karena kita berasumsi yang salah. Asumsi-asumsi yang salah itu adalah:

 

  1. Bahwa hubungan anak dengan orangtua ada prioritas utama kita dibandingkan hubungan antara suami dan istri. BUKAN!

Alfred A. Nesser, Emory University School of Medicine mengingatkan “Barangkali elemen yang paling penting pada bubarnya sebuah keluarga/perkawinan adalah karena hidup yang berpusat pada anak”

Bila seorang istri tidak mencintai suaminya lebih dari pada anaknya, baik anak maupun keluarganya dalam keadaan bahaya. Paparan Louis M. Terman.

Hubungan cinta dan harmonis antara suami dan istri akan sangat berdampak pada anak-anak. Kebahagiaan mereka akan dirasakan oleh anak-anak.

 

  1. Bahwa anak ber”hak” menjadi pusat perhatian. BUKAN!

Anak-anak bukan menjadi pusat dari keluarga, tetapi hubungan suami-istrilah yang menjadi pusat.

 

  1. Anak harus didorong agar secepatnya menjalankan peran lebih matang. JANGAN!

Kematangan tidak dapat dipaksakan tetapi merupakan sebuah proses. Pemaksaan orangtua malahan berakibat tidak berimbangnya usia dan perkembangan anak. Sering terjadi pula tuntutan yang diberlakukan pada anak-anak itu adalah bentuk “dendam” masa lalu orangtua yang belum terbalaskan. Misal: Waktu kecil tidak punya kesempatan menari, maka anaknya segera dikursuskan menari.

 

Menciptakan perasaan berarti pada anak:

 

  1. Orangtua sendiri merasa hidupnya berharga dan berarti dan sampaikan pada anak.
  2. Biarkan anak-anak belajar membantu tugas rumah/gereja.
  3. Kesempatan untuk memperkenalkan diri.
  4. Beri kesempatan anak untuk bicara tentang dirinya atau buka peluang untuk itu.
  5. Beri kesempatan untuk memilih dan informasi resikonya.
  6. Luangkan waktu untuk anak-anak.
  7. Berilah kepercayaan dan belajar mempercayainya.

140725231214

7.KEBUTUHAN AKAN YESUS

 

Anak-anak perlu Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Anak-anak juga menjadi bagian rencana Allah di muka bumi agar Kerajaan Allah ditegakkan tanpa membedakan dengan orang dewasa. Bukti-bukti ini dapat dilihat dalam beberapa kejadian di dalam Perjanjian Lama. (Yoel 2:16, Ezra 10:1, Yunus 3:5, 2 Taw 20:13).

 

Dalam Ulangan 6:4-9, Musa memberikan perintah pada bangsa Israel untuk setiap keluarga mengajarkan, memberitahukan, mendidik anak-anak mereka tentang Allah dan perbuatan-perbuatanNYA. Ini kebutuhan bagi anak-anak. Anak-anak memerlukan Tuhan dalam hidup mereka agar mereka:

 

  1. Mengetahui posisi mereka sebagai anak berdosa dan memerlukan Yesus sebagai Juruselamat mereka.
  2. Hidup dalam takut akan Tuhan serta mengenal karya-karyaNYA.
  3. Dapat terlibat (dijadikan alat Tuhan/melayani) dalam rencana Allah di akhir jaman.
  4. Memiliki pengalaman bersama DIA dalams setiap kehidupannya.
  5. Mempersiapkan diri untukmenyambut kedatangan Yesus kedua kali.

 

Sudahkah kita memenuhi kebutuhan mereka hari-hari ini? Masih ada waktu untuk memberikannya. Tuhan masih memberikan kesempatan.

No Comments

Enroll Your Words

To Top