DISCIPLINE YOUR KIDS AT HOME SMARTLY

happy-family-on-the-floor

Fenomena Mendidik Anak

Dalam perkembangan budaya dan teknologi yang saat ini ada, membuat pola mendidik anak dalam keluarga terjadi pergeseran. Hal ini kurang dirasakan oleh banyak orangtua sehingga terjadi masalah saat menemukan kesulitan ketika menghadapi anak-anak mereka. Ada orangtua yang menyerah dengan menyerahkan tanggungjawab kepada pihak ketiga, ada yang menentang “mati-matian” dengan memaksa caranya untuk mendidik anak-anak mereka, dan yang terakhir ada orangtua yang memang akhirnya berusaha belajar membuka diri dan mau mengembangkan diri (mengubah cara pandang dan berubah) dalam mendidik anak-anak mereka yang memang sudah berbeda dengan jaman dahulu.

 

Beberapa kesalahan orangtua ketika mendidik anak-anak mereka bisa saja terjadi, diantaranya:

 

  1. POLA LAMA MENJADI PEGANGAN PALING BENAR

Cara mendidik atau mendisplinkan anak-anak mengikuti cara lama yang dilakukan oleh orangtuanya. Tidak semua cara lama dapat disesuaikan dengan perkembangan anak pada saat ini.

 

  1. TANGGUNGJAWAB PIHAK KETIGA

Menyerahkan pendidikan penuh atau menggantungkan kepada pihak ketiga.

  • BabySiter/Pembantu
  • Mertua/orangtua
  • Sekolah/Penitipan Anak

Biasanya dengan alasan kesibukan menjadi alasan aman untuk menyerahkan anak-anak kepada pihak ketiga. Pendidikan anak tetap adalah tanggungjawab orangtua.

 

  1. PENGARUH ORANGTUA LAIN

Karena kekurangmengertian, maka banyak orangtua meminta saran dengan “banyak” orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Hal ini tidaklah salah, namun keunikan anak dan situasi yang berbeda membuat mendidik anak menjadi bisa berbeda pada setiap keluarga. Hal lain, banyaknya informasi semakin membuat orangtua bingung sebab bisa saja informasi dan saran dapat saling bertentangan.

 

  1. MEMBIARKAN

Menanggagap lingkungan secara alamiah akan membentuk anak-anak mereka, asalkan orangtua memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar anak-anak mereka, seperti makanan, pakaian, sekolah, dan sebagainya. Tidak peduli dengan pengasuhan pada anak-anak.

 

 

 

 

PROSES: Mendisplinkan Anak

Tujuan dasar dan utama dalam pengasuhan adalah untuk mengajar dan mendampingi anak dalam pengembangan kualitas sifat karakter anak seperti self control, menghargai orang lain, integritas, kejujuran, dan kompetensi. Sifat-sifat ini tidak datang dengan sendirinya secara alami pada saat bayi, anak-anak atau usia sekolah, tetapi melalui sebuah proses pendisiplinan setiap anak akan bertumbuh dan berkembang dan tahap-tahap sesuai dengan usianya.

 

Kata DISIPLIN seringkali dipahami dengan salah karena mengandung makna HUKUMAN atau KOREKSI.  Arti sebenarnya adalah pusat latihan.  Seperti seorang pelari yang mempersiapkan diri untuk lomba marathon atau seorang pelajar yang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. DISIPLIN didefiniskan sebagai “latihan yang diharapkan menghasilkan karakter khusus atau bentuk perilaku, secara khusus sebuah latihan yang membentuk moral atau pengembangan mental”  (American Heritage Dictionary). Dalam konteks pola asuh, proses pendisiplinan terdiri dari 3 komponen utama: INSTRUKSI (Instruction), PENGUATAN (Affirmation), dan MEMPERBAIKI (Correction). Komponen ke-4 seharusnya akan memperlengkapi untuk mencapai keberhasilan maksimal, lebih tergantung pada usaha orangtua: PENGABDIAN (Devotion) – setia, taat, sayang

 

 

Orangtua yang memiliki pengabdian dengan rela mengasuh anak mereka itulah sebenarnya yang disebut sebagai proses pengasuhan yang sebenarnya. Hal pertama kali anak harus mendapatkan instruksi tentang perilaku yang baik dan aman. Kemudian orangtua harus mendorong dan mengarahkan anak untuk perilaku tepat melalui penguatan (affirmation) dan perbaikan (correction). Saat mengasuh dengan penuh cinta pada anak-anak, tindakan penguatan (affirmation) seharusnya selalu melebihi tindakan perbaikan, meskipun tindakan perbaikan tetap dibutuhkan. Pada sebagian anak memang memerlukan perbaikan lebih dari anak-anak yang lain. Yang diperlukan anak-anak secara khusus adalah cinta orangtuanya dan dorongan yang mendukung dirinya.

 

Hal kelima yang menjadi pendukung utamanya adalah LINGKUNGAN SEHAT, orangtua menciptakan rumah sebagai rumah sebagai lingkungan yang sehat yang mendukung pengasuhan anak-anak. Rumah yang sehat bukan berarti rumah yang mewah atau indah, namun rumah yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk merasakan cinta dan mengungkapkan cinta. Rumah yang memberikan rasa aman dan diterima.

 index

Proses dan aplikasi

 

Instruksi:

Pertama, berikan instruksi pada anak Anda sesuaikan dengan tingkat usianya. Instruksi itu harus jelas dan mungkin perlu dilakukan berkali-kali pada anak-anak yang lebih kecil.

 

Penguatan:

Dorong anak Anda dengan menguatkan perilaku yang tepat dengan kata-kata, kalimat dan tindakan-tindakan, maupun hadiah.

 

Perbaikan:

Dengan perilaku yang salah atau tidak tepat, pertama kali lakukan penilaian pada anak Anda apakah ia melakukannya dengan sengaja atau tidak. Kemudian lanjutkan dengan memperbaiki perilaku.

 

Jika kecelakaan                       : Maafkan dan ajari

Jika ada rasa berasalah          : Tunjukkan wajah atau sikap tidak suka dan ajari

Jika sengaja, tidak taat           : Tunjukkan wajah atau sikap tidak suka. Ajari, berikan

konsekuensi sebagai usaha perbaikan perilakunya.

 

Kurang dari 1 tahun

 

  1. Tunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anak setiap hari melalui: pelukan, ciuman, bermain bersama, menyanyi dan percakapan. Semua anak-anak memerlukan cinta yang ditunjukkan secara nyata tujuannya untuk membangun hubungan yang sehat.

 

  1. Memberikan suasana yang aman dan layak untuk anak di rumah. Singkirkan barang-barang yang mudah pecah/rusak dari jangkauann anak-anak, berikan kunci (pengait) pada pintu rak/lemari, sembunyikan kabel-kabel listrik dan letakkan pelindung pada stopkontak. Secara praktis, singkirkan barang-barang yang bisa menarik perhatian anak dan membahayakan mereka.

 

  1. Ketika perilaku yang tidak diinginkan terjadi, gunakan pengalihan dan ubah arah fokusnya. Mainan atau benda yang berwarna cerah dapat membantu pengalihan perhatian dari benda atau tempat berbahaya. Ucapkan terimakasih pada anak karena ia dapat melakukan sesuatu yang Anda harapkan.

 

  1. Dengan tak jemu-jemu berusaha menghilangkan/menghapus perilaku tidak tepat atau menghindari tempat yang berbahaya dengan katakan,”Jangan, jangan..” Tunjukkan sikap senang saat ia melakukan apa yang kita harapkan.

 

 

Umur 12 – 18 bulan

 

Semua yang telah tertulis di atas , ditambah:

 

  1. Hargai anak setiap pencapaian tahap perkembangan yang dapat ia lampaui.

 

  1. Nyatakan secara jelas aturan dan sering berikan pujian atas perilaku yang baik.

 

  1. Tunjukkan sikap yang tak senang saat anak berperilaku menyimpang (tak diinginkan) dan dengan tegas ungkapan,”Jangan” dengan menatap matanya. Berikan penjelasan dan alasan singkat atas perilakunya tersebut.

 

  1. Selalu berhati-hati membedakan antara ketidaktaatan dan sifat kekanak-kanakannya atau rasa ingin tahu tanpa rasa bersalah. Hanya ketidaktaatan yang mendapatkan hukuman/konsekuensi.

 

Umur 18 bulan sampai 3½ tahun

 

  1. Tunjukkan cinta dan kasih pada anak melalui permainan aktif (bergulat, berguling, berkejaran) dan sering katakan, “Aku sayang kamu”. Sediakan waktu pribadi untuk bersama, misal makan pagi di hari Sabtu, bermain layang-layang atau hanya sekedar berjalan pagi/sore, belanja bersama, dll.

 

  1. Berikan dukungan secara tulus atas perilaku yang baik dan ketaatan melalui pujian verbal seperti,”Aku sungguh bangga padamu..” dan berikan hadiah-hadiah seperti perlakukan khusus atau aktifitas khusus seperti berlibur ke taman, dll.

 

  1. Luangkan waktu bersama sebagai keluarga, khususnya saat makan bersama di rumah. Ini sangat mendukung komunikasi dalam keluarga, memberi kesempatan orangtua menjadi model melakukan aturan yang baik, dan sekaligus merangsang kebiasaan makan dengan baik dan sehat seperti saat anak kita memperhatikan kita makan sayur-sayuran.

 

  1. Mulai memberikan kesempatan anak untuk mulai memilih, seperti 2 pakaian yang akan dikenakan atau mainan mana yang akan dibawa ke berlibur. Batasi pilihan hanya 2 atau 3 untuk menghindari rasa putus asa pada anak dan diri kita.

 

  1. Mulai memberikan pertimbangan dan penjelasan ketika anak melakukan perilaku yang menyimpang. Berikan penjelasan bahwa perilakunya itu salah dan jangan diulang. Berikan alasan singkat dari perilaku menyimpang tersebut memberikan akibat yang merugikan bagi dirinya dan orang lain. Misal: menggigit, memukul, dll.

 

  1. Susun dan buatlah aturan khusus dengan harapan anak dapat melakukannya sesuai dengan tingkat kematangannnya. Sebagai contoh: anak umur 2 tahun yang sulit duduk tenang, berjalan lamban, dan tetap tenang di waktu yang lama.

 

  1. Lakukan antisipasi pada situasi dimana anak mungkin akan bertindak secara berlebihan atau menyimpang. Misal: Sebelum masuk ke toko, berikan informasi dan peringatan agar tidak banyak memegang barang, mengambil dan memasukkan dalam kantong, berteriak, menangis, dll.

 

  1. Gunakan cara “Time-Out” ketika perilaku menyimpang dilakukan. Bawa anak untuk duduk sendiri dalam kebosanan, didukung oleh lokasinya seperti di pojok ruang keluarga atau lorong. Siapkan stopwatch/kitchen timer untuk membantu periode waktu time-out. (1 menit setiap tahun). Setelah time-out berakhir lakukan pelukan, menjelaskan pelanggaran dan kembali memulihkan hubungan. Catatan: Gunakan selalu lokasi/tempat yang sama di rumah.

 

  1. Abaikan kemarahan dan rengekan yang biasa. Jangan berikan perhatian atas tindakan tersebut, kecuali perilaku itu mengakibatkan kerusakan atau tidak sopan. Jika kemarahan berlanjut dalam beberapa menit, masukkan anak ke dalam kamar/ruangannya sampai perilakunya membaik. Jika kemarahan dan ketidaksopanan mengarah kepada orangtua maka mungkin dapat dilakukan “pukulan” sebagai perbaikan perilaku. Bedakan kemarahan karena frustasi (diperlukan pendampingan) dengan kemarahan karena membangkang (abaikan).

 

  1. Jangan memperkuat atau memberikan hadiah atas rengekan anak yang biasa dilakukan oleh orangtua yang kurang tegas atau tidak konsisten. Rengekan yang akhirnya  mengubah keputusan awal orangtua akan dipakai anak kembali untuk merengek di waktu yang lain, ketika ia tidak setuju dengan keputusan orangtuanya.

 

  1. Membiarkan konsekuensi alamiah untuk memperbaiki perilaku menyimpang anak. Contoh: Saat anak tidak taat menaiki meja saat orangtua tidak melihatnya dan terjatuh di lantai. Seorang anak bermain kucing dan tergores. Anak yang tidak taat berlari menuju orangtuanya dan terjatuh sehingga lututnya terluka. Tidak ada hukuman saat ia melakukan itu, namun akibat yang itulah yang dapat memperbaiki perilakunya. Gunakan kesempatan ini untuk mendidik prinsip keamanan dengan kepatuhan.

 

  1. Pukulan untuk ketidakpatuhan. Ketika anak sudah mengerti secara jelas tentang aturan dan akibat dari ketidakpatuhan namun tetap dilakukan, maka bentuk hukuman ringan tak akan berhasil, pukulan di pantat mungkin saatnya diperlukan. Ikuti aturan dan prosedur dari pukulan yang benar.

Umur 3½ tahun sampai 6 tahun

 

  1. Jadilah teladan yang baik bagi anak-anak. Melakukan apa yang Anda katakan. Praktekkan kejujuran dan setiap ucapan dan tindakan. Sediakan waktu secara berkualitas. Rencanakan sarapan bersama, pergi ke kebun binatang, dan mengerjakan tugas bersama. Di tempat tidur, bacakan cerita sebelum tidur, menceritakan singkat apa aktifitas dalam sehari, dan berdoa bersama.

 

  1. Memulai untuk melakukan tugas-tugas rumah sesuai dengan usia untuk mengenbangkan rasa tanggungjawab dan ketekunannya. Lakukan hal ini saat anak menginjak usia di atas 5 tahun.

 

  1. Pada setiap perilaku menyimpang yang baru, selalu berikan penjelasan alasan-alasan bagaimana memperbaikinya.

 

  1. Membatasi hak-hak istimewanya atau menyingkirkan mainan karena anak berperilaku tidak benar. Contoh: Ketika anak tidak patuh dan terus bermain denngan tetangga di halaman maka selama 2 hari ia tidak diijinkan pergi berkunjung ke tetangganya, ketika anak kita menolak tidur maka hak menonton televisi dikurangi atau ditiadakan di keesokan harinya.

 

  1. Membiarkan terjadinya konsekuensi alamiah (natural consequences) – Lihat beberapa contoh di kelompok umur sebelumnya.

 

  1. Gunakan konsekuensi Logis untuk mendidik perilaku baik yang diharaplan. Contoh: Ketika permen karet anak kita menempel di kursi mobil atau menempel di rambutnya, ia tidak diperbolehkan makan permen karet selama 2 hari. Saat anak menolak mengemasi mainannya setelah bermain, mainan-mainan itu dijauhkan darinya selama 2 hari.

 

  1. Gunakan “time-out” untuk perilaku yang menyimpang. Lihat contoh-contoh pada kelompok umur sebelumnya.

 

  1. Pukulan untuk ketidakapatuhan terus berulang atau memberontak dengan tidak sopan. Lihat contoh-contoh dalam cara pendisplinan dengan pemukulan.

 

  1. Konsisten dalam memberikan perbaikan dan hukuman

 

 

 

 

 

CATATAN

 

Perbaikan perilaku pada usia balita

 

Dengan meningkatnya mobilitas dan kesadaran anak balita, meningkatkan pula ketekunan balita dalam mencapai keinginan.Hal ini dapat menjadi konflik antara Anda dan balita Anda ketika keinginannya tersebut mencapai keterbatasan Anda. Koreksi pertama yaitu melalui ekspresi ketidaksetujuan dan penjelasan singkat tentang hal tersebut. Jika dia tetap menentang, maka hukuman diperlukan untuk membujuk balita Anda. Bergantung pada kondisi yang terjadi, berikut ini merupakan beberapa alterantif berikut.

 

  1. BOKS TIME-OUT

Digunakan di usia-usia awal,  merupakan bentuk awal “time-out” dimana bayi ditempatkan pada boksnya dengan tanpa mainan di dalamnya. Pada saat meletakkan dalam boks, jangan memandang wajah, kurangi pembicaraan, letakkan dalam boks, dan tinggalkan bayi selama 1-2 menit, dengan kondisi ruangan yang sepi. Setelah itu, jemput bayi dan peluk erat. Kembali ke tempat awal dan ingatkan dia bahwa yang aktivitas tersebut tidak diperkenankan : Jangan sentuh (itu). Apabila perilaku yang tidak diinginkan itu muncul kembali, ulangi boks time-out ini dengan periode waktu yang lebih lama.

 

  1. KONSEKUENSI LOGIS

Menyingkirkan mainan atau kesempatan bermain merupakan bentuk lain dari koreksi yang dapat dilakukan untuk perilaku yang salah. Contoh : apabila Budi terus menerus melempar mainan, maka mainan tersebut dijauhkan darinya. Apabila Sinta memainkan makanannya,  maka makanan tersebut untuk sementara disingkirkan dari hadapannya.

 

  1. KONSEKUENSI ALAMI

Konsekuensi jenis ini mengikuti perilaku yang ingin dihindarikan tersebut, sehingga dapat digunakan untuk membujuk anak untuk tidak melakukannya lagi. Contoh: Jatuh dan terluka pada lutut, setelah tidak mengikuti perintah orang tua untuk tidak berlarian. Tangan terjepit pintu, setelah diminta untuk berhenti bermain pintu.

 

 

 

 

Umur 6 -10 tahun

 

  1. Menjadi teladan yang baik. Mendorong perilaku yang baik. Sediakan waktu pribadi untuk bersama dengan anak. Terlibat aktif mengatur atau aktifitas-akatifitas, seperti olah raga, gym, balet. Ingat! Peraturan tanpa hubungan akan menghasilkan pemberontakan. Berikan tanggungjawab yang baru atau hak istimewa sebagai bentuk hasil kepatuhannya dam tunjukkan penilaian yang dewasa padanya. Gunakan setiap kesempatan untuk berdiskusi dengan anak tentang nilai-nilai dan hukum dalam hidup sehari-hari serta masalah rohani.

 

  1. Batasi hak istimewanya saat ia melakukan ketidakpatuhan. Berikan alasan atas perbaikan perilaku yang dikehendaki.

 

  1. Biarkan konsekuensi alamiah dan konsekuensi logis mengajar anak dalam memperbaiki perilakunya. Contoh: Lamanya berpakaian di pagi hari, sehingga terlambat masuk sekolah. Saat anak tidak menyelesaikan PR karena menunda, tetap anak tidur tepat waktu dan mengumpulkan PR yang belum selesai tersebut pada keesokan harinya. Saat anak merusakkan atau menghilangkan alat rumah tangga atau mainannya, anak diminta untuk mengganti dengan uang saku atau tabungannnya.

 

  1. Gunakan “time-out” untuk perilaku yang tidak semestinya seperti perilaku merusak, atau tak mau berbagi. Pada usia ini seharusnya “time-out” adalah waktu untuk merenung yang lebih dalam.

 

  1. Untuk perilaku-perilaku yang khusus dan dilakukan secara berulang, pilihlah 2 atau 3 pelanggaran dan buatlah kesepakatan antara orangtua dan anak:

 

  1. Buat daftar aturan dan tanggungjawab
  2. Kemudian daftar konsekuensi
  3. Putuskan bersama konsekuensi yang mana yang sesuai dengan perilaku yang melanggar.
  4. Orangtua dan anak seharusnya menandatangani kesepakatan itu, tempelkan, dan orangtua komitmen melakukannya.
  5. Tulis kesepakatan itu dengan jelas.
  6. Pemukulan seharusnya digunakan (diperlukan) saja atau dikurangi.

 

 

Umur di atas 10 tahun

 

  1. Lanjutkan dan terus bangun hubungan dengan anak. Menyediakan diri untuk membuka terus membuka komunikasi dan diskusi dengan anak-anak kita. Terlibat dalam aktifitas anak jika memang memungkinkan. Berikan hak khusus yang baru karena mereka dapat menunjukkan tanggungjawabnya dan hasil.

 

  1. Berikan kata-kata pujian yang membangun ketika mereka menunjukkan perilaku bertanggungajwab. Saat melakukan ketidakpatuhan, kurangi hak-haknya dengan memberikan sanksi yang bervariasi seperti denda uang, tugas-tugas tambahan, penundaan uang saku, dll.

 

  1. Memberikan nasihat pada anak-anak kita tentang bagaimana membuat keputusan-keputusan yang sehat dan benar dalam hubungannya dengan integritas moral dan perilaku seksual.

 

CATATAN

 

Hukuman dengan memukul

 

Pemukulan sebagai bentuk hukuman bisa dikategorikan sebagai tindak kekerasan jika orangtua tidak berhati-hati dan bijaksana saat melakukan pada anak-anak mereka. Hal lain yang perlu menjadi PERHATIAN:

 

  1. Hukuman dengan memukul BUKAN dengan menampar wajah, menendang, menggigit, ataupun dilakukan dengan brutal.
  2. Hukuman dengan memukul BUKAN untuk melampiaskan kemarahan, dendam, dan kebencian.
  3. Hukuman dengan memukul BUKAN satu-satunya cara untuk memberikan hukuman. Sesuaikan dengan usia dan perkembangan anak.
  4. Hukuman dengan memukul BUKAN untuk menghindari hukuman yang lain (time-out, pembatasan, pengalihan, atau pengurangan hak).
  5. Hukuman dengan memukul BUKAN dilakukan sebagai bentuk frustasi orangtua karena anak mereka mengalami kesulitan.

 

Lakukan dengan:

  1. Penyesuaian usia yang berlaku dan bisa dengan hukuman pemukulan. Efektif untuk usia 18 bulan – 6 tahun. Sudah tidak biasa untuk anak usia 7-10 tahun.
  2. Lebih baik hukuman ini dilakukan dengan “perencanaan” bukan dengan spontanitas atau dalam keadaan tak terkontrol. Jangan lakukan sebagai bentuk emosi marah kepada anak-anak.
  3. Tidak dilakukan dengan interval waktu yang berdekatan, atau sering dilakukan.
  4. Lakukan di tempat-tempat tertutup, bukan di tempat umum, atau dilihat oleh banyak orang. (Seperti kamar tidur, ruang tertutup, dll)
  5. Lakukan pukulan menag dirasakan sakit, tetapi tidak menimbulkan luka. Gunakan alat-alat yang tidak terlalu lentur/elastis. (penggaris karet, gulungan kertas). Ikat pinggang, tali, kayu, besi, tidak disarankkan. Rotan adalah bahan yang sapat digunakan.
  6. Lakukan penyelesaian setelah hukuman dijalankan dengan memberikan penjelasan, janji untuk tidak mengulang. Lakukan dengan memberikan pelukan dan peryataan sayang. Jangan berlebihan karena rasa bersalah.
  7. Jangan menimbulkan luka.
  8. Lakukan di bagian tubuh yang tidak berbahaya, disarankan: pantat.

 

 

 

 

 

Surabaya, April 2014

 

Toninardi Wijono, S.Psi, CBA

No Comments

Enroll Your Words

To Top